Pages

Sejarah Pembangunan PLTA NiyamaTulungagung

26 February 2014


Pada masa pendudukan tentara Jepang (1942-1945) dilaksanakan kerja paksa “Romusha” berupa pembuatan saluran dan terowongan air Neyama (Gunung Selatan) untuk mengalirkan kelebihan air DAS Kali Brantas di daerah Tulungagung ke Samudera Hindia. Hal ini dilakukan sebagai upaya Jepang untuk mengendalikan banjir. Namun pelaksanaannya terhenti akibat kekalahan tentara Jepang dalam Perang Dunia ke II (Agustus 1945).

Tahun 1955 daerah Tulungagung terkena banjir besar yang menelan banyak korban dan kejadian itu menimbulkan gagasan pembangunan kembali terowongan Niyama yang kemudian pada tahun 1955-1961 pembangunan terowongan Niyama tersebut diteruskan oleh Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur.
Read more ...

SEJARAH HARI JADI TULUNGAGUNG

26 February 2014


Hari jadi Kabupaten Tulungaung yang setiap tahun kita peringati pada tanggal 1 April termaktub dalam buku Sejarah dan Babad Tulungagung¡± dalam buku itu disebutkan bahwa bahwa tonggak hari jadi Tulungagung bertepatan dengan tanggal 1 April 1824 Masehi.
Angka tahun 1824 masehi rupa – rupanya didasarkan pada Candrasengkala Memet yang terdapat pada sepasang Arca Dwarapala yang berada di empat penjuru batas kota Tulungagung. Candra Sengkala tersebut berbunyi ¡° Dwi Rasekso Sinabdo Ratu ¡±yang menunjuk angka tahun jawa 1752.
Dengan berpedoman selisih waktu 72 tahun maka tahun jawa 1752 sama dengan tahun 1824 Masehi. Itulah sebabnya sampai dengan tahun 2002 yang lalu kita baru memperingati hari jadi Tulungagung ke-178.

Read more ...

TULUNGAGUNG

26 February 2014
Tulungagung  adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten Tulungagung dibatasi oleh Kabupaten Blitar di sebelah timur, Kabupaten Trenggalek disebelah barat, Kabupaten Kediri di sebelah utara dan Samudra Hindia di sebelah selatan. Secara administratif, Kabupaten Tulungagung terbagi dalam 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan. Kecamatan tersebut adalah Bandung, Besuki, Boyolangu, Campurdarat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pagerwojo, Pakel, Pucanglaban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, Tulungagung.
Bagian barat laut Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Wilis-Liman-Limas. Bagian tengah adalah dataran rendah; dan bagian selatan adalah pegunungan yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Kidul. Tulungagung adalah salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia, yakni di daerah campurdarat & besole. Pantai Popoh, merupakan obyek wisata pantai di Laut Selatan yang cukup terkenal.
Dahulu kala Tulungagung terkenal dengan daerah rawa-rawa, yang lebih dikenal dengan nama Bonorowo/ngrowo (rowo=rawa). Bekas rawa-rawa tersebut kini menjadi wilayah kecamatan Campurdarat, Boyolangu, Pakel, Besuki, Bandung, Gondang. Dalam prasasti Lawadan,terletak di sekitar Desa Wates Kecamatan Campurdarat, yang dikeluarkan pada Jum’at Pahing 18 Nopember 1205 disebutkan bahwa Raja Daha yang terakhir yaitu Sri Kretajaya merasa berkenan atas kesetiaan warga Thani Lawadan terhadap raja ketika terjadi serangan musuh dari sebelah timur Daha. Tanggal tersebut kemudian digunakan sebagai hari jadi tulungagung. Pada Prasasti Lawadan dijelaskan juga tentang anugrah Raja Kertajaya berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak dan penerimaan berbagai hak istimewa kepada DWAN RI LAWADAN TKEN WISAYA, atau dikenal dalam cerita sebagai DANDANG GENDHIS. Di jaman majapahit, Bonorowo dipimpin oleh seorang Adipati yang bernama adipati kalang. Adipati kalang tidak mau tunduk pada kekuasaan majapahit, yang berujung pada invasi mojopahit ke bonorowo. Adipati kalang dan pengikutnya yang berjuang dengan gagah berani akhirnya tewas dalam pertempuran didaerah yang sekarang disebut kalangbret dikecamatan Kauman.
Di Jaman penjajahan jepang, tulungagung dijadikan base pertahanan jepang untuk menangkal serangan sekutu dari australia serta sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menghadapi serangan dari arah utara. Pada masa itu ratusan ribu romusa dikerahkan untuk mengeringkan rawa-rawa tulungagung membuangnya ke pantai selatan dengan membuat terowongan air menembus dasar gunung Tanggul, salah satu gunung dari rangkaian pegunungan yang melindungi Tulungagung dari dasyatnya ombak pantai selatan, yang terkenal dengan sebutan terowongan ni yama. Terowongan tersebut sekarang dijadikan PLTA Tulungagung.
Tulungagung sekarang terkenal dengan kerajinan Marmer dan o­nyx, di Kecamatan Campurdarat dan Besuki, Batik di Tulungagung, Majan dan Kauman. Tenun Perlengkapan Militer dengan standart NATO di Kecamatan Ngunut. Konveksi dan Bordir Garmen, busana muslim, sprei, sarung bantal, rukuh dsb. Ikan Hias yang memenuhi pasar nasional dan eksport. ikan konsumsi ( Perikanan darat dan laut ). Makanan khas tulunguagung antara lain Lodho Ayam, Nasi Pecel, sompil, jajanan seperti kacang Shanghai, giti, jongkong, ireng-ireng, sredeg, cenil, plenggong. Minuman khas seperti kopi cethe, Wedang jahe sere, dawet caon, rujak uyub, beras kencur. Tulungagung adalah base camp ketoprak “Siswo Budoyo”, kesenian kentrung, jaranan, dan reog tulungagung.
Read more ...

Cethe Khas Tulungagung

26 February 2014


Kalau kita sedang jalan-jalan ke Kabupaten Tulungagung, Propinsi Jawa timur, Indonesia, istilah CETHE atau NYETHE sudah tidak asing lagi. Cethe atau Nyethe, hal tersebut tidak dapat terpisahkan dengan rokok dan kopi. " Cethe " merupakan kata benda yang artinya ampas wedang kopi yang telah diendapkan dan siap untuk dioles-oleskan pada batang rokok. Sedangkan " Nyethe " merupakan kegiatan mengoles-oleskan ampas wedang kopi pada batang rokok.

Kegiatan nyethe tersebut bervariasi cara mengendapkan kopi setelah diaduk dengan sendok, dituangkan ke lepek dan ditunggu beberapa menit, kemudian diminum sedikit demi sedikit airnya kopi atau air kopinya dituangkan kembali ke cangkir, lalu diletakkan potongan kertas kecil-kecil diatas ampas kopi yang telah diendapkan di lepek untuk menyerap sisa air kopi, setelah kertas diambil semua kemudian ditambah susu kental sedikit dan air kopi sedikit atau ditambah vanili sedikit biar harum baunya lalu diaduk di lepek tadi dengan sendok kecil tipis.

Read more ...

Bangunan Cagar Budaya / Peninggalan Sejarah Di Tulungagung

26 February 2014

Museum Tulungagung
Jalan Raya Boyolangu, Km. 4, Komplek SPP/SPMA Kec. Boyolangu Tulungagung. \
1. Patung DURGA (batu Andesit) 1 buah
2. Patung AGASTYA (batu Andesit) 2 buah
3. Patung JALADWARA (batu Andesit) 1 buah
4. Patung WISNU (batu Andesit) 2 buah
5. Patung LlNGGA SEMU (batu Andesit) 1 buah
6. Patung DWARAPALA (batu Andesit) 17 buah
7. Patung KEPALA IKAN (batu Andesit) 2 buah
8. Patung NANDI (batu Andesit) 1 buah
9. Patung KALA (batu Andesit) 2 buah
10. Patung BUDHA (batu Andesit) 2 buah
11. Patung ASMA (batu Andesit) 1 buah
12. Patung SELUBUNG TIANG (batu Andesit) 1 buah
13. Patung YONI (batu Andesit) 3 buah
14. Patung NARASHIMA (batu Andesit) 1 buah
15. PRASASTI (batu Andesit) 9 buah
16. ARCA (batu Andesit) 1 buah
17. Patung SKANDHA (batu Andesit) 1 buah
18. Patung SIWA MAHAKALA (batu Andesit) 1 buah
19. Patung PARWATI (batu Andesit) 1 buah
20. AMBANG PINTU (batu Andesit) 1 buah
21. Patung GANESHA (batu Andesit) 4 buah
22. BATUCANDI (batu Andesit) 44 buah
23. KERIS (Tilam Upih & Tilam Sari) 2 buah
24. Foto Peninggalan Sejarah berupa Candidan Goa di Kab. Tulungagung
Read more ...